Lima Kecamatan Di Sleman Endemis DBD




sembada. id - Kasus deman berdarah dengue (DBD) di Sleman tiga tahun terakhir cukup tinggi, baik kuantitas maupun kualitasnya. Data dinas kesehatan (Dinkes) setempat, pada tahun 2014, kasus  DBD tercatat 538 kasus, empat penderita diantaranya meninggal dunia, tahun 2015, kasus DBD tercatat 520 kasus,  sembilan penderita meninggal dunia, tahun 2016, kasus DBD tercatat 880 kasus, sembilan orang meninggal dunia  dan hingga 10 Oktober 2017, telah terjadi 350 kasus,  tiga penderita meninggal  dunia.  Lambatnya penangganan kepada  pasien, terutama membawa ke  rumah sakit  diduga menjadi penyebab mereka meninggal dunia.

Kasi  pencegahan dan  pengendalian penyakit menular (P2PM) Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Dul zaini mengatakan untuk kasus DBD di Sleman cukup tinggi. Karena itu, berbagai langkah terus dilakukan guna menekan dan meminilisir jatuhnya korban. Selain dengan pembinaan dan penyuluhan juga dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Terutama di tempat-tempat yang potensial  untuk perkembangan nyamuk aedes aegypty.

“Untuk PSN, di antaranya dengan meningkatkan pemberdayaan masyarakat dan memperluas pembentukan kader  juru pemantau jentik (Jumantik) serta meningkatkan  kelompok kerja  operasional (Pokjanal) DBD,” kata Dul Wahid usai pencanangan gerak PKK-KB Kesahatan Sleman di Pendopo rumah dinas bupati Sleman, Selasa (10/20/2017)

Dulzaini menjelasakan ada beberapa faktor yang menyebakan naiknya kasus DBD  di Sleman.  Selain pengaruh iklim (musim penghujan) sehingga banyak genangan air hujan yang potensial menjadi tempat perindukan nyamuk aedes aegypty dan kelembapan udara, juga  kesadaran masyarakat yang kurang peduli dengan  perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

“Indikasinya untuk angka bebas jentik (ABJ) masih dibawah standar, yaitu kurang dari 95%,”  terangnya
Menurut Dulzaini dari jumlah kasus selama 2017, paling banyak ada di lima kecamatan. Yaitu  Gamping, Godean, Mlati, Depok dan Kalasan. Sehingga lima kecamatan itu ditetapkan sebagai daerah endemik. Meski begitu daerah lain tetap harus waspada. Sebab  untuk penyebar DBD telah menyebar ke seluruh kecamatan yang ada di Sleman.

“Karena itu, kami minta warga meningkatkan kewaspadaan.  Apalagi  ini memasuki musim hujan,”  ungkapnya.

Kabid kesehatan masyarakat (Kesmas) Dinkes Sleman, Bambang Suharjono menambahkan, karena ABJ di Sleman masih rendah, yaitu baru 89%.  Padahal sesuai standar  nasioanl minimal 95%. Untuk itu, masalah ini akan menjadi fokus. Di antaranya dengan terus mengalakkan pemantauan dan pembinaan guna meningkatkan kesadaran meningkatkan ABJ.


“Program lainnya, yaitu dengan gerakan jumat bersih. Di antaranya dengan kegiatan pemantauan jentik,” tambahnya.(Koran Sindo)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Lima Kecamatan Di Sleman Endemis DBD"

Posting Komentar