Sleman Terbaik Nasional Penyelenggara PKH 2017





sembada.id –Kabupaten Sleman terpilih menjadi penyelenggaran terbaik nasional  kegiatan peningkatan kemampuan keluarga atau family development session (FDS) program keluarga harapan (PKH) 2017.

Sleman menjadi yang terbaik karena dinilai berhasil dalam melaksanakan FDS, terutama dalam hal pendampingan keluarga kurang mampu peenrima PKH, baik yang menyangkut dalam hal kesehatan, pendidikan anak dan pemberdayaan ekonomi.

 Menteri sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa memberikan penghargaan tesebut dan diterima kepala dinas sosial (Dinsos) Sleman Sri Murni Rahayu saat acara appreciation  day PKH di Hotel Vasa, Surabaya, 19 Desember lalu.

Kepala Dinsos Sleman Sri Murni Rahayu mengatakan adanya penghargaan ini tentunya menunjukkan keseriusan Sleman dalam menanggulangan kemiskinan. Namun ini bukan sebagai tujuan, justru sebaliknya menjadikan tantangan yang lebih berat ke depan. Khususnya dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat terhadap implementasi program penanggulangan kemiskinan.  Di antaranya PKH. Sehingga jumlah keluarga miskin di Sleman akan terus berkurang.

“Saat ini, jumlah keluarga miskin di Sleman masih cukup tinggi, yaitu 38.873 KK atau 10,60% dari jumlah KK yang ada di Sleman dan yang rentan miskin ada 71.791 KK atau 19,58% dari jumlah KK di Sleman,” kata Sri Murni Rahayu atas capaian program PKH Sleman di Dinsos Sleman, Jumat (22/12/2017).

FDS sendiri merupakan program pendampingan kepada keluarga miskin penerimaan manfaat PKH yang dilakukan satu bulan sekali dalam satu lokasi dengan jumlah 15-20 orang. Ada empat materi pokok yang diberikan, yaitu soal kesehatan, ekonomi, pendidikan dan perlindunga anak. Untuk kesehatan, lebih difokuskan kepada gizi,  ibu hamil dan hidup sehat. Ekonomi tentang pengelolaan dan pemberdayaan UMKM, pendidikan tentang bagaimana mempersiapkan anak menjadi SDM yang berkualitas dan untuk perlindungan anak soal apa saja yang harus dilakukan untuk memenuhi hak mereka, terutama anak berkebutuhan khusus dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

“Untuk pendampingan ini, bukan hanya diserahkan kepada pendamping PKH, namun petugas dari Dinsos terjun langsung ke lapangan,” terang mantan staf ahli bupati Sleman bidang kemasyarakatan dan sumber daya manusia (SDM) tersebut.

Sri Murni Rahayu menjelaskan jumlah keluarga di Sleman penerima PKH ada 47.803 KK. Jumlah ini dipastikan akan terus bertambah pada tahun 2018 mendatang. Untuk kepentingan tersebut, sekarang petugas sedang melakukan verifikasi terhadap keluarga baru  yang diusulkan mendapatkan PKH itu.

“Saat ini ada sekitar 7000 keluarga tambahan yang diverifikasi untuk mendapatkan PKH,” jelasnya.

 Kabid kelembagaan dan pemerberdayaan sosial Dinsos Sleman Pramono menambahkan untuk PKH ini tidak berkorelasi dengan KK miskin.  Sebab untuk parameter penilaian berbeda.  Untuk penerima PKH di antaranya bagi keluarga miskin, harus ada empat komponen, yaitu memiliki anak sekolah, ada yang sedang hamil, lansia dan anak berkebutuhan khusus atau difabel.  Dimana keluarga itu baru dihapus dari PKH, jika sudah tidak memiliki empat komponen tersebut. Bila masih ada maka masih menerima PKH. Sehingga beda dengan kualifikasi keluarga miskin.

“Namun begitu, PKH dapat diputus atau ditunda, jika ternyata keluarga tersebut tidak melaksanakan dari program yang ada, seperti anaknya sering tidak masuk sekolah atau ibu hamil yang tidak pernah memeriksanakan ke fasilitas kesehatan terdekat,”  jelasnya.

Untuk itulah, selain memberikan pendampingan, petugas Dinsos terjun langsung ke lapangan juga untuk memastikan PKH itu benar-benar dijalankan keluarga penerima.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sleman Terbaik Nasional Penyelenggara PKH 2017"

Posting Komentar