Ribuan Balita di Sleman Kurang Asupan Gizi

Petugas dari Dinkes Sleman  memberikan pemaparan soal  stunting saat  Sosialisasi Penanggulangan Stunting Dini dalam rangka  peringatan Hari Gizi Nasional ke-58 tingkat Sleman, di pendopo rumah dinas bupati Sleman, Kamis (25/1/2018)

sembada.id - Ribuan bayi di bawah lima tahun (Balita) di Sleman ditenggarai kurang asupan  gizi. Terutama asupan protein pada masa pertumbuhan.  Indikasinya balita tersebut mengalami stunting (tubuh pendek).  Data dinas kesehatan (Dinkes) setempat pada tahun 2017 dari  6900 balita, 8211 atau 11,9% balita di antaranya mengalami stunting . 

Pola  asuh dan kurangnya asupan gizi saat kehamilan diduga menjadi penyebabnya. Terbukti  dari  jumlah  stunting itu   paling banyak  terjadi  di lima kecamatan,  yaitu kecamatan Minggir, Sayegan, Moyudan, Prambanan dan Kalasan.  Padahal  daerah tersebut merupakan lubung pangan di Sleman. 

Kepala Bagian (Kabid) Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Sleman,  Bambang Suharjana mengatakan ada beberapa faktor penyebab stunting pada balita ini.  Selain faktor ekonomi, penyakit dan keturuan,  juga pola asuh orang tua. Terutama dalam pemberian air susu ibu (ASI) maupun asupan gizi kepada mereka.  

Hal ini lantaran sang ibu terlalu sibuk,  sehingga tidak memberi ASI secara ekslusif pada bayinya. Padahal  untuk mendapatkan gizi yang ideal, bayi harus diberi ASI ekslusif selama enam bulan pertama.  Setelah itu, baru bisa diberi makanan pendamping ASI.

“Karena itu masalah gizi tersebut harus mendapatkan perhatian bersama," kata Bambang, saat Sosialisasi Penanggulangan Stunting Dini dalam rangka  peringatan Hari Gizi Nasional ke-58 tingkat Sleman, di pendopo rumah dinas bupati Sleman, Kamis (25/1/2018)

Bambang menjelaskan untuk mengatasai masalah ini,  selain dengan penyuluhan, workshop dan seminar kepada para ibu dan orang tua, juga dengan edukasi dan pemahanan, khususnya yang menyangkut dengan pola pikir masyarakat dalam mengasuh anak. Baik yang menyangkut dengan perkembangan maupun asupan gizi kepada balita.

"Kami juga telah memberikan pelatihan kepada  petugas Puskesmas untuk mengampanyekan pentingnya pemberian ASI ekslusif dan membentuk konselor inisiatif menyusui dini (IMD)," paparnya.

Selain itu, untuk mendukung program tersebut, juga sudah ada Peraturan Bupati (perbup) nomor 38 tahun 2015 tentang pemberian ASI ekslusif dan IMD. Melalui peraturan ini, seluruh instansi di Pemkab Sleman, baik swasta maupun pemerintah berkewajiban untuk mendukung pemberian ASI
ekslusif dan IMD bagi para ibu. Minimal dengan menyediakan ruang laktasi di tempat umum.

“Khusus untuk  masalah stunting, selain melalui perbaikan asupan gizi,  juga dengan banyak olahraga,” terangnya.

Untuk itu,  Bambang menyarankan agar anak-anak diberi aktivitas fisik yang banyak. Dengan begitu perkembangan tulangnya akan terangsang.  Termasuk untuk penanganannya sejak sebelum masa kehamilan hingga tumbuh kembang balita. Jadi tidak hanya anaknya namun juga ibunya.   Dengan demikian tumbuh kembang balita akan lebih terjamin.

 “Pemecahan masalah gizi buruk ini juga harus dilakukan secara jangka panjang. Sebab awal mula stunting terjadi pada masa kehamilan. Karena itu, gizi kaum perempuan pun harus diperhatikan,” ungkapnya.

Nutrisionis Dinkes Sleman, Sri Mujianto  menambahkan permasalahan asupan gizi dan nutrisi biasanya dicirikan dengan panjang bayi lahir kurang dari 48 sentimeter dan berat badan kurang dari 2,5 kilogram. Sehingga bayi yang mengalami masalah asupan gizi ini terancam mengalami stunting.

“Permasalahan ini muncul bukan hanya pada saat balita masa pertumbuhan saja, namun juga pada saat kehamilan,” tambahnya. (sindonews)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ribuan Balita di Sleman Kurang Asupan Gizi"

Posting Komentar