Warga Turi Tolak Gumuk Pusung Wonokerto Ditambang

      Warga  Wonokerto,  Turi, Sleman saat menyampaikan aspirasi penolakan penambangan   Gumuk Pusung,  Gondoarum, Wonokerto, Turi   di balai            desa setempat, Rabu (24/1/2018)


SEMBADA.ID  -Warga  Wonokerto, Turi,  Sleman menolak  aktivitas penambangan di daerah mereka. Tepatnya di bukit  Gumuk Pusung, Gondoarum.  Alasannya,  lokasi  penambangan tersebut merupakan benteng alam, terutama untuk pengamanan sumber mata air sekaligus bendungan yang ada di bawahnya.  Jika bukit itu tidak ada, mereka khawatir akan menganggu pasokan air untuk irigasi pertanian maupun sumber kehidupan warga, termasuk terjadinya kerusakan alam. 

Sebagai bentuk penolakan, warga Wonokerto mengadukan permasalahan itu ke pemerintah desa Wonokerto. Mereka diterima langsung kepada desa  (Kades) Wonokerto, Tomon Haryo Wirosobo dan jajaran musyawarah pimpinan kecamatan (muspika) Turi (camat, Kapolsek dan Dandim) di aula balai desa setempat.

Termasuk bersama-sama jajaran aparat  desa dan Muspika Turi melakukan peninjaun penambangan bukit Gumuk Pusung. Saat rombongan warga datang, aktivitas penambangan di tempat itu dihentikan. Terlihat di tempat itu ada satu alat berat (becho) dan beberapa orang sebagai pekerja tambang beristirahat. Nampak  di sisi timur dan barat bukit Gumuk Pusung itu sudah mulai ditambang.

Sementara jalan menuju bukit Gumuk Pusung juga rusak, bahkan sebagai jalan itu dilalui  aliran air juga yang bersumber dari hulu Gunung Merapi. Kondidi itu diduga akibat aktivitas penambangan di tempat tersebut.

 Koordinator  warga Wonokerto penolak tambang Gumuk Pusung, Supriyono mengatakan dengan posisi Gumuk Pusung, yang diampit dua  sungai  yang berhulu dari gunung Merapi, yaitu sungai Bedog di sebelah timur  dan sungai Krasak  di sebelah barat,  jelas  keberadaannya sangat penting.  Selain untuk menjaga keberadaan sumber mata air, yang berasal dari Merapi, Gumuk Pusung itu juga sebagai pengaman terjadinya keruskan lingkungan. Termasuk melindungi, bendungan Gondoarum yang ada di bawahnya. Dimana bendungan itu, bukan hanya berfungsi sebagai irigasi untuk mengairi lahan pertaniian, terutama perkebunan  salak, tetapi juga dimanfaatkan sebagai   pipanisasi untuk kebutahan air bersih warga.

“Jika gumuk pusung rusak, jelas akan menganggu ekosistem lingkungan yang ada. Bahkan jika terjadi lahar hujan, dipastikan bendungan Gondoarum akan rusak, karena sudah tidak ada lagi pengaman atau yang menahan aliran lahar hujan tersebut,” kata Supriyono.

Supriyono menegaskan agar hal itu tidak terjadi, maka warga meminta pemerintah desa melakukan tindakan tegas, yaitu dengan menghentikan aktivitas penambangan tersebut, termasuk peralatan berat untuk penambangan juga ditarik dari tempat itu.   Warga juga menolak adanya penambangan di daerah Wonokerto lainnya.

“Jika ini tidak segera ada tindakan kami akan melakukan aksi yang lebih besar lagi,” tandasnya.

Kades Wonokerto, Turi Tomon Harya Wirosobo  mengatakan pada dasarnya desa tidak pernah memberikan maupun mengeluarkan izin untuk pertambangan di bukit Gumuk Pusung itu. Sebab untuk perizinan sesuai dengan aturan berada di Pemda DIY.  Sebagai tindaklanjut dari laporan warga ini, segera akan melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait.

“Yang jelas Wonokerta tidak boleh ada penambangan. Jika itu ada saya akan pasang badan,” tegasnya.

Hal yang sama diungkapkan camat Turi Siti  Anggraeni Susilo Prapti. Ia menegaskan pihaknya komitmen wilayah Turi tidak boleh ada penambangan. Bukan hanya di wilayah Wonokerto tetapi juga di daerah lain.  Untuk permasalahan di Wonokerto,  segera akan berkoordinasi dengan Pemda DIY untuk masalah itu. Terutama apakah kegiatan itu sudah ada izin atau  tidak, termasuk status di kawasan bukit Gumuk Pusung itu. Apakah memang sebagai daerah tambang atau bentang alam.

“Jika melihat keberadaannya bukit itu sebagai bentang alam, mestinya tidak boleh untuk tambang,” ungkapnya.

Fasilitator  aktivitas penambangan bukit Gumuk Pusung, Tiyok mengatakan sebenarnya sebelum melakukan aktivitas penambangan, sudah melakukan komunikasi dengan kelompok tani setempat. Termasuk memberikan ganti rugi kepada warga yang terdampak atau terjadinya kerusakan akibat aktivitas pertambangan ini. 

“Karena itu, justru mempertanyakan adanya aksi tersebut,” katanyaa.

Menurut Tiyok,  adanya penambangan di bukit Gumuk Pusung  tersebut juga untuk kepentingan warga, terutama pemilik lahan.  Sebab rencananya akan dibuat persawahan terasiring. Sehingga pemilik lahan bisa memanfaatkan untuk pertanian.  Bukit Gumuk Pusung sendiri selama ini lahan tidur.

“Itulah rencana dari penambangan bukit Gumuk Pusung ini,” akunya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Warga Turi Tolak Gumuk Pusung Wonokerto Ditambang"

Posting Komentar