Kenyamanan Sleman Mulai Terusik




        Petugas kepolisian menjaga geraja St.Lidwina Bedog, Trihanggo, Gamping, Sleman, pasca penyerangan pastor dan  umay saat  misa di gereja                  tersebut, Minggu (11/2/2018)

SEMBADA.ID  –  Kondisi dan situasi Sleman yang selama ini aman dan nyaman mulai terusik, atas tindakan seseorang yang menyerang pastor dan tiga umat dengan pedang saat misa di gereja St.Lidwina, Bedog, Trihanggo, Sleman, Minggu (11/2/2018) pagi.

Untungnya sebelum korban bertambah, segera datang polisi ke tempat tersebut dan melumpuhkan pelaku penyerangan itu dengan tembakan di kedua lututnya.  Meskipun dalam kejadian itu polisi itu juga mengalami luka tangan kirinya karena menangkis pedang pelaku.

Atas kejadian itu,  menyebabkan  tiga  jamaat dan romo  mengalami  luka di bagian punggung, bahu, kening dan kepala.  Bahkan karena lukanya yang cukup  dua jamaat dan romo harus mendapatkan penanganan medis yang serius. 

Tiga Jamaat yang mengalami luka, yaitu Budijono , 44 warga Nogotirto, Gamping mengalami luka di tengguk, kemudian Yohanes,  38  warga  Nyusupan, Trihanggo, Gamping luka di kening dan Mukarto, 60 warga Nogotirto, Gamping yang luka di punggung.  Sedangkan romo yang memipin misa, yaitu romo Karl Edmund Prier, 80 mengalami luka di kepala bagian belakang dan bahu sebelah kiri.

Dua jamaat, yaitu Budijono dan Yohanes  serta Romo Prier karena lukanya cukup parah harus mendapatkan perawatan intensif  di RS Panti Rapih. Bahkan  Romo Prier karena ada pendarahan di otak harus menjalani operasi untuk mengeluarkan darahnya. Untuk  Mukarto, hanya mengalami luka ringan dan setelah mendapatkan perawatan di RSA UGM Kronggahan, Gamping  sudah diperbolehkan pulang.

Untuk pelaku sendiri,  setelah dilumpuhkan dengan timah panah  di kedua lututnya, karena saat terjatuh  setelah ditembak sempat dihakimi massa,  harus mendapatkan perawatan yang intensif di RS Bhayangkara, Polda DIY. 

Kapolres  dan bupati Sleman. AKBP M Firman Lukmanul Hakim dan Sri Purnomo,  Danrem 072/Pamungkas Kol Kav Muhammad Zamroni, Kapolda DIY Brigjen Pol Ahmad Dhofiri  serta ketua DPR Bambang Soesatyo,  Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto dan Kabareskrim Komjen Ari Dono  Sukmanto  setelah kejadian itu langsung meninjau lokasi.  

Kapolres Sleman AKBP M Firman Lukmanul Hakim , bahkan memimpin langsung olah tempat kejadian perkara (TKP) terhadap peristiwa tersebut.  Polisi sendiri  masih mendalami  apa motif pelaku melakukan penyerangan tersebut.

Dari informasi yang dihimpun, peristiwa itu berawal, pada pukul 07.30 WIB saat misa dimulai, usai perarakan ke altar, tiba-tiba datang seseorang yang diketahui bernama Suliyono, 23 warga  Krajan,  Kandangan,  Pasanggarhan, Banyuwangi,  Jawa Timur, masuk dari pintu gerbang  dengan membawa pedang,  sesampai di pintu gereja langsung membacok umat yang ada di tempat tersebut, yakni Budijono yang sedang mengendong anaknya. Pelaku membacok tengkuk budijono dua kali.  Setelah itu langsung masuk ke dalam gereja  dengan mengacung-acungkan pedang yang dibawanya sepajang 1 meter dengan bertakbir. Sehingga  membuat suasana di  dalam gereja menjadi krodit  dan di dalam gereja melakukan pembacokan lagi  kepada umat, yang  bernama Yohanes yang berada di sisi selatan, bacokan itu mengenai keningnya.  

Bukan hanya berhenti di situ, pelaku langsung naik altar dan membacok  Romo Prier  mengenai kepala bagian belakang dan bahu sebelah kiri,  Tidak hanya sampai disitu, pelaku kembali mengacung-acungkan pedangnya dan  membabat patung Bunda Maria dan Yesus yang ada di sisi selatan dan utara altar. 
Hal itu menyebabkan misa tidak dilanjutkan dan para umat pun keluar gereja intuk menyelamatkan diri dan sebagian lagi menolong umat yang terluka.  Romo Prier sendiri ditolong umat yang  bertugas koor, yaitu Mukarto dan dipapah keluar melalui pintu sisi utara dekat untuk tempat koor. Saat memapah romo tersebut,  pelaku dari belakang membacok punggung Mukarto.  Untung lukanya tidak terlalu dalam.

Sebagai tindakan awal para umat yang dibacok dibawah ke RSA UGM Kronggahan, Gamping untuk mendapatkan perawat pertama.  Setelah melihat kondisi, Budijono, Yohanes dan Romo Prier di rujuk ke RS Panti Rapih,  sedangkan Mukarto tetap dirawat di RSA UGM.

Setelah kejadian itu, polisi dari Polsek Gamping  yaitu Aiptu Al Munir  datang dan melakukan negoisasi dengan pelaku.  Namun  pelaku tidak menghiraukannya,  untuk menghentikan, Munir memberikan tembakan peringatan, tetapi tetap tidak digubrik bahkan merangsek maju mengayunkan pedang ke arah Munir dengan reflek Munir menangkis  dengan tangannya dan menembak  kedua lutut  pelaku, sehingga pelaku jatuh.   Mengetahui hal tersebut umat pun melakukan  pengeroyokan terhadap pelaku.  Untungnya sebelum terjadi yang tidak diinginkan bisa dikendalikan.
Aiptu Al Munir dan pelaku selanjutnya dibawa  ke RSA UGM,  tetapi karena lukanya parah, Munir di rujuk ke RS Panti Rapih, pelaku dibawa ke RS Bhayangkara Polda DIY.

Kapolda DIY Brigjen Pol Ahmad Dhofiri mengatakan  karena kondisi pelaku masih belum stabil, sehingga petugas belum dapat meminta keterangan kepada yang bersangkutan. Karena itu, apa motif melakukan tindakan tersebut belum bisa memberikan keterangan.  Baru setelah kondisi pelaku pulih segera akan melakun interogasi  guna mengusut kasus ini.

“Kami meminta masyarakat tetap tenang dan menjaga situasi kondusif di DIY. Jangan terpancing dan mendinginkan  suasa di DIY,” kata Dhofiri usai meninjau kondisi gereja St. Lidwina tersebut.


Meski  begitu  apa yang dilakukan pelaku ini merupakan tindakan  radikal dan intoleran dan dapat dikatakan merupakan  tindakan biadab serta patut dikutuk bersama.  Oleh karena itu, akan berusaha keras mengungkap tuntas kasus ini. Sehingga semuanya clear.

“Untuk masalah ini, kami akan mengumpulkan FKUB dan tokoh masyarakat lainnya untuk membahas masalah ini,”  tandasnya.

 Hal yang sama diungkan bupati Sleman Sri Purnomo.  Ia mengatakan prihatin dengan kejadian ini. Padahal secara umum kerukunan umat beragama di Sleman sudah terjaga dengan baik.  Terbuki  yang melakukan penyerangan anak dari luar Sleman bahkan luar DIY.  Namun begitu tetap memberikan apresiasi  atas tindaka masyarakat  yang masih bisa mengendalikan situasi, termasuk tindakan petugas juga sesuai dengan protap yang ada.

“Saya juga menghimbau untuk menjaga keamanan, semua tempat ibadah dipasang CCTV, sehingga jika ada sesuatu yang mencurigakan dapat terdeteksi secepatnya,”  harapnya.

Sementara Kepala Kemenag DIY Lutfi Hamid mengatakan peristiwa ini sesuatu yang memilukan  disaat  pemerintah dan elemen masyarakat memiliki kesadaran dalam membangun harmonisasi di antara umat Bergama.  Tetapi tetap bersyukur dengan tindakan umat dan para romo yang telah memaknai ini sebagai  insiden. Meskipun begitu, diharapkan seluruh lapisan masyarakat menahan diri dan tidak menjadikan isu yang dihembuskan dengan tendesi tertentu.   Sehingga akan ada yang memanfaatkan peristiwa ini sebagai isu SARA.


“Karena itu mengharapkan para tokoh masyarakat mencoba menahan diri  tidak melakukan tindakan radikal dan intoleransi. Termasuk semua eleman dalam kewaspadaan penuh, terutama upaya infentrasi agar Indonesia dalam keadaan yang tidak aman,” tandasnya. (wpr)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kenyamanan Sleman Mulai Terusik"

Posting Komentar