Kraton Serahkan Ubo Rampe Labuhan Merapi


Caption uborampe (1) : Perwakilan kraton KRT Widyo Sembego menyerahkan ubo rampe labuhan merapi kepada camat Cangkringan, Mustadi (kanan) di pendopo kecamatan setempat, Senin (16/4/2018)

SEMBADA.ID -  Kraton Yogyakarta telah menyerahkan ubo rampe (perlengkapan) untuk prosesi labuhan Merapi, Selasa (17/4/2018) kepada juru kunci Merapi Ki Kliwon Surakso Hargo atau yang dipanggil Asih, Senin (16/4/2018).  Secara simbolis ubo rampe tersebut diserahkan oleh perwakilan Kraton, KRT Widyo Sembego kepada camat Cangkringan Mustadi yang mewakili Pemkab Sleman di pendopo kantor kecamatan setempat. 

Ada 11 macam ubo rampe yang diserahkan, terdiri dari delapan jenis kain, yakni, Sinjang Cangkring, Sinjang Kawung Kemplang, Semekan Gadhung, Semekan Gadhung Mlathi, Semekan Bangun Tulak, Kampuh Poleng Ciut, Dhestar Dara Muluk, dan Paningset Udaraga, masing-masing berjumlah satu lempar. Uba rampe lainnya, yaitu satu wadah Sela (kemenyan), Ratus (taburan menyan) dan iiyah konyoh (minyak wangi), yatra tindhih (uang tindih) satu amplop serta Ses Wangen (rokok harum) sebanyak 10 biji. 11 macam ubo rampe ini dijadikan satu dalam kotak kecil.  


Selain menyerahkan ubo rampe, Kraton juga menyerahkan tali asih untuk bupati Sleman yang diterima oleh camat Cangkringan. Untuk labuhan Merapi tahun ini, karena bertepatan dengan labuhan ageng juga diserahkan condro watangan (pelana kuda).


Seusai menerima ubo rampe tersebut, camat Cangkringan, kemudian menyerahkannya kepada juru kunci gunung Merapi Asih. Sehingga, setelah acara serah terima selesai, ubo rampe untuk labuhan Merapi itu, dibawa ke petilasan kediaman mbah Maridjan di Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan.


Sebelum dilabuh ubo rampe ini disimpan semalam di tempat itu dan baru pada Selasa (17/4/2018) pagi sekitar pukul 06.00 WIB, dilabuh di Bukit Sri Manganti, lereng Merapi. Atau 1,5 km arah utara Kinahrejo (tempat alhmarhum mbah Maridjan).

Untuk mangayubagyo labuhan Merapi, di petilasan kediaman mbah Maridjan juga digelar  beberapa kegiatan, di antaranya gelar  budaya dan  prosesi wilujungan serta  pentas wayang kulit semalam suntuk dengan dalang Ki Suwondo.


KRT Widyo Sembego mengatakan secara umum untuk prosesi labuhan tidak ada perubahan, tetap sama dengan tahun sebelumnya. Yaitu tetap berpedoman pada pakemnya. Hanya saja karena bertepatan dengan labuhan ageng, untuk ubo rampe ada tambahan, yaitu candro watangan (pelana kuda) yang diserahkan untuk dilabuh. Sedangkan, kegiatan labuhan Merapi sendiri dalam rangka jumenengan Raja Kraton Yogyakarta.

“Selain itu juga sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan dan leluruh, yang telah menjaga gunung Merapi. Sehingga terjalin komunikasi dan hormanisasi,” kata KRT Widyo Sembego.

Hal senada juga diungkpan oleh juru kunci Merapi Asih. Ia mengatakan tidak mendapat wangsit khusus dari Kraton Yogyakarta ataupun dari almarhum ayahnya, Mbah Maridjan perihal ritual magis Kraton yang akan dipimpinnya tersebut.

"Tidak ada yang khusus, semuanya sama. Yang berbeda ini merupakan labuhan ageng yang diselenggarakan setiap delapan tahun sekali atau satu windu. Yakni adanya candro watangan (pelana kuda),” kata Asih



Asih mengharapkan dengan labuhan Merapi ini, masyarakat Cangkringan khususnya dan DIY umumnya tetap dapat hidup aman dan tentram. Termasuk tetap dapat menjaga dan memelihara kelestarian lingkungan. 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kraton Serahkan Ubo Rampe Labuhan Merapi"

Posting Komentar