Perdagangkan Burung Dilindungi Warga Bantul Terancam 5 Tahun Penjara


Tersangka penjual burung yang dilindungi, SR, 32 warga Gunung Saren Kidul, Trimurti, Srandakan, Bantul diperlihatkan Polda DIY saat ungkap  kasus di Mapolda setempat, Kamis (12/4/2018)


SEMBADA.ID – Polda DIY mengungkap kasus penjualan satwa burung yang dilindungi sebagaimana diatur dalam UU No 5/1999 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem. Terungkapnya kasus ini setelah petugas menangkap warga Gunung Saren Kidul, Trimurti, Srandakan, Bantul, SR, 32 pelaku jual beli burung yang dilindungi di rumahnya, Rabu (11/4/2018).

Penangkapkan ini hasil pengembangan informas dari  warga jika di wilayah Bantul ada yang akan menjual burung yang dilindungi yaitu  kakak tua seram (jambul orange) seharga Rp3,5 juta. Tersangka SR sekarang ditahan di Mapolda DIY untuk  proses hukum lebih lanjut.


“Berbekal informasi ini tim opsnal Ditkrimsus Polda DIY  melakukan penyelidikan di daerah tersangka,” kata Dir Reskrimsus Polda DIY Kombes  Pol Gatot Agus Budi Utomo saat ungkap kasus di Mapolda DIY, Kamis (12/4/2018).


Gatot menjelaskan kronoligis penangkapan sendiri, setelah sampai di lokasi pelaku, petugas mendapat bantuan dari warga dan menemukan alamat SR.  Setelah menunjukkan surat tugas kemudian melakukan pemeriksaan dan benar memang di rumahnya ada beberapa burung yang dilindungi tanpa ada dokumen resmi dari instansi berwenang.

“Kami mendapatkan ada tujuh burung yang dilindungi dan tidak boleh diperjualbelikan, masing-masing kakak tua seram (jambu oange), kakak tua jambu kuning dan  elang bodol, 2 ekor serta elang bido, 1 ekor,”  paparnya.

Petugas selanjutnya mengamankan pelaku dan  7 burung tersebut sebagai barang bukti ke Mapolda DIY untuk pengembangan lebih lanjut. Termasuk  berkoordinasi dengan balai koservasi sumber daya alam (BKSDA) DIY  guna mengindentifikasi jenis burung itu. Hasil pemeriksaan, memang burung itu masuk dalam satwa yang dilindungi, seperti yang diatur dalam PP No 7/1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa.

“SR dijerat Pasal 40 ayat (2) jo Pasal 21 ayat (2) huruf a UU 5/1990 tentang  Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara dan denda Rp 100 juta,” ungkapnya.

SR  kepada petugas mengaku telah 3 tahun ini memperdagangkan satwa liar  dengan cara konvensional, yakni menawarkan ke penghobi, menjual di pasar,  atau mendatangi komunitas pecinta burung.  Tersangka memperoleh satwa juga dari membeli di pasar, penghobi dan masyarakat.

Kepala BKSDA) DIY,  Junita Parjanti menambahkan dari hasil pemeriksaan kondisi kesehatan 7 ekor burung tersebut secara umum sehat. Sebagai tindaklanjut dari penangkapan ini,  BKSDA akan merehabilitasi burung tersebut  ke Stasiun Flora dan Fauna di Tahura Bunder Gunungkidul sebelum dikembalikan ke  habitatnya.


“Untuk rehabilitasi membutuhkan waktu cukup lama, yaitu antara 3-5 tahun sebelum siap dilepas di habitatnya,”  tambahnya.


Menurut Junita sebenarmya masyarakat boleh memelihara burung yang dilindungi tersebut. Yaitu dari jenis F2 atau anakkan. Meski begitu, untuk memelihara ini tetap harus ada dokumen resmi dari instansnya.  BKSDA sendiri terus berupaya untuk melestarikan dan mengembangbiakkan satwa yang dilindungi tersebut, yaitu minimal dapat menambah 2%.


“Karena itu bagi yang ingin mengembangkan dan memelihara dapat menghubungi instansinya. BKSDA sendiri memiliki call center di 0821 4444 9449,”  jelasnya.. (sindonews)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Perdagangkan Burung Dilindungi Warga Bantul Terancam 5 Tahun Penjara"

Posting Komentar